Kamis, 01 Januari 2015

Mengapa Mobil Lawas Menjamur di Kuba?

Mengapa Mobil Lawas Menjamur di Kuba?

Mobil lawas lebih populer di Kuba dibanding mobil baru (Foto: Reuters)

Mengapa Mobil Lawas Menjamur di Kuba?
HAVANA - Jika sudah suka, apa pun akan dilakukan, seperti dilakukan seorang pria bernama Luis Abel Bango ini yang menghabiskan waktu tujuh tahun untk mencari mobil kesayangannya, Chevrolet Bel Air model tahun 1957.
Ia akhirnya mendapatkan mobil tsb di daerah terpencil sebelah barat Kuba dan membelinya dg harga USD7.000 atau sekira Rp86,9 juta.
"Saya mendatangi berbagai tempat untk mencari yang saya inginkan. Saya harus pergi ke ujung pulau ini mencari mobil ini,” tutur Bango seperti dikutip Reuters.
Cat mobil empat pintu itu tetap kinclong karena dijaga keasliannya oleh sang pemilik sebelumnya, lengkap dg chrome serta bagian atap yang berbentuk seperti roket.
"Semuanya tampak masih seperti orisinal, komplet," ungkapnya.
Sekira 60 ribu unit mobil Chevrolet Bel Air terjual di Kuba sejak sebelum revolusi 1959 yang dipimpin Fidel Castro. Namun jangan harap saat ini bisa mudah mendapatkannya dalam kondisi masih orisinal. Karena itu, mengoleksi mobil ini dalam kondisi "utuh" merupakan sebuah prestasi tersendiri.
Sejak Amerika melakukan embargo ekonomi kepada Kuba, sangat sulit mendapatkan suku cadang mobil produksi Negara Paman Sam tsb. Dengan berbagai cara, pemilik mencoba untk membuat kendaraannya awet. Apalagi, sejak 2010, Pemerintah Kuba melarang mobil-mobil Kuba keluar dari negara negara berbentuk pulau itu.
Tak heran bisa mendapatkan mobil Chevrolet Bel Air 1957 masih dalam kondisi baik merupakan anugerah tersendiri bagi Bango.
Mobil-mobil lawas di Kuba berperan penting dalam menunjang transportasi warga. Namun banyak dari mobil-mobil itu yang sudah tdk lagi menggunakan suku cadang orisinal.
"Apa yang Anda lihat, banyak mobil yang sebenarnya berjalan seperti barang yang bergulir yang diikat dg solasi dan kawat kandang ayam,” tutur Lance Lambert, seorang presenter acara tepevisi di AS "Vintage Vehicle".
Alejando Torres, seorang mekanik, membeli Chevrolet model tahun 1957 pada 10 tahun lalu dari pemilik pertamanya. Odometernya menunjukkan 74 ribu mil. Namun mesinnya sudah tdk orisinal lagi. Mesin mobil Chevroletnya ia ganti dg mesin diesel Mitsubishi. Alasannya, mesin mobil lamanya harus meminum bahan bakar yang harganya sangat mahal di Kuba.
Ia mengaku mengeluarkan uang USD50 ribu atau sekira Rp620,9 juta untk mendapatkan mobil bekas itu. Padahal di Amerika Serikat harga mobil yang sama hanya USD28.100 atau sekira Rp349 juta dalam kondisi baru.
Berdasarkan sistem yang berlaku di Kuba, pembelian mobil baru diikat dg aturan ketat. Bahkan, untk pembelian mobil sedan baru ada biaya tambahan sebesar USD200 ribu atau hampir Rp2,5 miliar. Sedangkan mobil-mobil lawas tdk dikenakan biaya tambahan. Karena itu tdk heran lebih banyak mobil lawas yang "gelinding” dibanding mobil baru.
Mobil Chevrolet model lawas cukup banyak digunakan di sana. Selain Chevy, ada pula yang menggunakan Ford, Buick, DeSotos, Plymouths,d an Oldsmobiles.
Kondisi ini menyebabkan Kuba menjadi sasaran para kolektor mobil lawas, terutama asal AS.
(ton)

Sumber: http://autos.okezone.com/read/2014/12/31/15/1086371/mengapa-mobil-lawas-menjamur-di-kuba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar