Sabtu, 17 Januari 2015

Singapura menolak cetak iklan "Charlie Hebdo"

Singapura menolak cetak iklan "Charlie Hebdo"

Singapura (ANTARA News) - Pembaca majalah "The Economist" di Singapura akan menemukan halaman kosong dalam edisi terbaru majalah tsb.

Halaman ini dimaksudkan untk mempublikasikan gambar sampul terbaru majalah satir Prancis "Charlie Hebdo", tetapi percetakan lokal majalah itu menolak untk melakukannya, kata media lokal melaporkan, Jumat.

Halaman ke-22 majalah itu melompong tak berisi apa-apa kecuali dua kata "Halaman Hilang", kata Lianhe Zaobao.

"The Economist" menjelaskan bahwa itu karena percetakan lokal mereka di Singapura menolak untk mencetak sampul terbaru dari "Charlie Hebdo", yang menggambarkan Nabi Muhammad menumpahkan air mata dan memegang tanda bertuliskan "Je Suis Charlie" (Saya Charlie).

Printer Times, perusahaan yang mencetak majalah itu, mengatakan dalam satu pernyataan media pada Jumat bahwa "The Economist" mengatakan kepada mereka, telah memutuskan untk menerbitkan sampul di edisi Inggris, Asia, Amerika Serikat, dan Eropa, serta meminta percetakan untk membiarkan mereka tahu jika pihaknya prihatin atas kasus itu, harian "Strait Times" melaporkan.

"Kami berkonsultasi dan mencatat keprihatinan kammi dg The Economist. Setelah musyawarah, The Economist mengirimkan halaman pengganti bagi kitaa sesuai yang telah kitaa cetak," kata pernyataan itu.

Yaacob Ibrahim, Menteri Komunikasi dan Informasi Singapura, pada hari yang sama mengatakan bahwa ia menghargai keputusan perusahaan percetakan itu.

"Tidak ada kebebasan berekspresi tanpa batas. .. Hak untk berbicara secara bebas dan sensitif harus datang bersama-sama," kata Yaacob.

Media Development Authority
(MDA) Singapura juga menyambut keputusan tsb.

"Ini menunjukkan pemahaman industri kammi dari kepekaan yang terlibat, serta rasa hormat mereka untk keharmonisan ras dan agama di Singapura," katanya.
(Uu.H-AK)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar