Teka-teka jadwal penerbangan pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapura mulai terkuak. Petugas pengatur lalu lintas udara dan otoritas Bandar Udara Juanda ternyata tidak mendapatkan informasi terbaru soal izin rute penerbangan luar negeri untuk Air Asia dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Peta Lokasi Jatuhnya Air Asia/(TribunNews
General Manager Bandara Juanda Angkasa Pura I Surabaya Trikora Harjo mengaku tidak tahu ada perubahan jadwal izin terbang untuk Air Asia dari Senin, Rabu, Jumat, Minggu (summer) ke Senin, Selasa, Kamis, Sabtu (winter).
âSaya diberi (fotokopi surat tembusan) oleh otoritas bandara satu hari setelah kejadian, Pak,â kata Trikora seperti dikutip Tempo.
Surat yang dimaksud adalah Surat Direktur Angkutan Udara Nomor 008/30/6/DRJU-DAU-2014. Surat bertanggal 24 Oktober 2015 itu perihal Izin Penerbangan Luar Negeri Periode Winter 2014/2015.
PT Angkasa Pura I sebagai pengelola bandara bertugas untuk menyiapkan pelaksanaan pergerakan pesawat udara, termasuk menyiapkan fasilitas penunjangnya seperti garbarata. PT AP I juga berperan dalam penyusunan jadwal penerbangan.
Trikora mengaku menjalankan jadwal menurut periode biasanya karena merasa tidak ada perubahan jadwal. Lagi pula jadwal itu sudah dibahas di IDSC.
âSaya sebagai pem-providelayanan mengikuti apa yang di-approve AirNav,â katanya.
Terkait kisruh izin dan jadwal penerbangan ini, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memerintahkan audit investigasi pemberian izin terbang bagi pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapura 2014. Sasaran audit itu di antaranya AirNav Indonesia dan pengelola Bandara Juanda, PT Angkasa Pura I. Audit investigasi itu juga akan dilakukan terhadap pejabat Perhubungan Udara.
âUntuk mengetahui keterlibatan pejabat Kementerian Perhubungan,â kata Staf Khusus Keterbukaan Informasi Publik Menteri Perhubungan Hadi M. Djuraid.
Jatuhnya Air Asia menyingkap dugaan penyimpangan jadwal terbang maskapai itu dan memunculkan indikasi adanya permainan dalam pemberian izin terbang. Maskapai Air Asia mendapat slot Surabaya-Singapura pada Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu, mulai 26 Oktober 2014 hingga 28 Maret 2015.
Namun maskapai itu menerbanginya pada Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Pelaksana Tugas Dirjen Perhubungan Udara Djoko Murdiatmodjo berujar Air Asia baru mengajukan perubahan jadwal pada 28 Desember 2014, tak lama setelah kecelakaan.
Sementara itu, Ketua Indonesia Slot Coordinator (IDSC) Hemi Pamuharjo mengakui pihaknya menyetujui tujuh slot (tujuh hari) selama sepekan bagi Air Asia rute Surabaya-Singapura. Tapi, karena hak angkut yang tersisa bagi Air Asia tinggal empat slot, Dirjen Perhubungan Udara hanya menyetujui empat hari terbang.
Persoalannya, kata Hemi, AirNav Indonesia dan Angkasa Pura I diduga tetap menggunakan data alokasi slot IDSC untuk Air Asia, sehingga maskapai itu mengubah jadwal terbang ke hari lain.
âTeman-teman di lapangan menggunakan data alokasi slot yang diterbitkan oleh IDSC, yang sebenarnya itu merupakan salah satu persyaratan untuk dapat izin rute,â katanya kepada Tempo.
Manajemen PT Angkasa Pura I punya perkiraan lain. Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura I Farid Indra Nugraha menduga surat dari Dirjen Perhubungan Udara kepada manajemen Air Asia tak ditembuskan ke General Manager Bandara Juanda.
âTidak ada surat tembusan tersebut ke GM Bandara Juanda. Ini bagian dari investigasi,â kata dia.
Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan Mohammad Alwi enggan berkomentar panjang. Ia hanya menegaskan tim Kementerian masih mendalami semua dugaan.
âKami tetap berpatokan pada dokumen yang ada. Dalam dokumen itu, izinnya Sabtu, bukan Minggu.â
Sumber: http://simomot.com/2015/01/07/kisruh-izin-airasia-ini-jawaban-bandara-juanda/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar