Seperti kita ketahui, keberhasilan Badan SAR Nasional menemukan serpihan dan jenazah korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501 di perairan Pangkalanbun, Kalimantan Tengah mendapat acungan jempol dari dunia internasional. Greg Waldron, redaktur FlightGlobal Asia bahkan mengatakan, Indonesia memiliki tim SAR yang kemampuannya diakui di antara negara-negara Asia lainnya.
SELALU SIGAP: Tim Basarnas menurunkan dua jenazah penumpang AirAsia dari helikopter Dolphin di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Jumat (2/1). Kiprah anggota Basarnas cukup menonjol dalam upaya pencarian korban. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Dengan kondisi geografis cukup sulit di antara 18 ribu pulau yang ada, kata Waldron, Indonesia punya banyak pengalaman kecelakaan pesawat, kapal, dan bencana alam.
Tim SAR Indonesia selama ini juga menjalin kerja sama dengan sejumlah tim SAR kecelakaan penerbangan di seluruh dunia, termasuk BAdan Keselamatan Transportasi Amerika Serikat.
Senada dengan Waldron, ahli penerbangan dari perusahaan konsultan penerbangan Martin Consulting, Mark Martin mengatakan, Indonesia termasuk cepat dalam mengidentifikasi kecelakaan, seperti jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Jawa Barat, pada Mei 2012 yang menewaskan 45 orang.
âIndonesia punya kapal selam tanpa awak yang bisa mengarungi wilayah bawah laut. Jika pesawat AirAsia QZ 8501 itu tenggelam di bawah laut, mereka pasti dengan cepat bisa menemukannya dan upaya penyelamatan pasti berjalan sukses,â kata dia dikutip Merdeka.
Tunjangan
Namun, apa yang tampak di muka, belum tentu seindah di punggung. Keberhasilan menjadi tim SAR terbaik di Asia tak dibarengi dengan tingkat kesejahteraan yang mumpuni. Lantas, berapa tunjangan yang mereka setiap bulannya?
Berdasar pada pola penggajian Pegawai Negeri Sipil (PNS), besaran gaji yang diterima oleh pegawai Basarnas per bulannya ditentukan oleh golongan mereka di PNS. Golongan ini mengacu pada lama kerja kerja menjadi PNS.
Tentu jumlah tersebut pun terasa kurang pas dibanding dengan risiko besar yang harus mereka terima. Terlebih bagi mereka yang masuk dalam tim rescuer, yang notabene memiliki risiko cedera bahkan kehilangan nyawa.
âKarenanya, kita ada yang namanya tunjangan risiko tinggi,â ujar Kasubag Humas dan Media, Basarnas, Yusuf Latif sebagaimana dikutip JPNN.
Agar lebih adil, besaran tunjangan risiko tinggi ini disesuaikan pos masing-masing anggota Basarnas. Semakin tingggi risiko yang harus ditempuh, maka semakin besar tunjangan yang akan diberikan.
Sejauh ini, besaran tunjangan risiko tinggi paling besar berjumlah Rp 1 juta per bulan. âTentu tim rescuer yang memiliki tunjangan risiko paling tinggi. Kalau besarannya, tergantung. Macam-macam,â ungkap pria kelahiran Ujung Pandang itu seperti dilansir JPNN.
Untuk mendapatkan tunjangan bulanan itu pun tidak mudah. Tunjangan bisa didapat jika anggota Basarnas telah lulus ujian SAR Dasar. Proses ujian akan dilaksanakan dalam jangka waktu sebulan.
Dalam ujian tersebut, para anggota SAR wajib belajar teknik-teknik penyelamatan dasar baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Selain itu, mereka akan digembleng secara fisik dan mental.
Tak jarang, uji fisik dilakukan dengan kegiatan outbound seperti naik gunung atau tower. Ujian ini berlaku untuk seluruh anggota Basarnas, baik petugas lapangan maupun petugas di kantor. âKalau gagal, mereka harus ulangi lagi tahun depan,â katanya.
Lalu bagaimana dengan tunjangan saat seorang sedang melaksanakan tugas berhari-hari? Seperti dalam proses pencarian Air Asia QZ8501 misalnya? PNS golongan 3B itu mengaku, remunerasi merupakan hal yang tidak pasti. Terkadang, ada tambahan yang bisa dibawa pulang. Namun, tak jarang pula mereka pulang hanya dengan membawa banyak pakaian kotor.
Kendati demikian, diakui Yusuf, besarnya gaji tidak menjadi prioritas utama. Baginya, dapat menyelamatkan korban dalam keadaan selamat adalah kepuasan terbesar.
âSaat bertugas, bagi kami melaksanakan tugas adalah tujuan utama. Untuk urusan itu (remunerasi), urusan nanti,â ungkapnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh sang istri Mei Rita Janis. Bagi perempuan 35 tahun itu, kepulangan suaminya dalam kondisi sehat merupakan hal terpenting. Sebab, diakui Rita, tak jarang sang suami pulang dalam kondisi cedera. Apalagi saat Yusuf masuk menjadi tim rescuer selama 10 tahun, sejak 1993.
Ditanya kapan pulang?
Meski hidup dalam bayang-bayang rasa cemas, Rita mengaku telah siap sepenuhnya sejak awal. Karena, sebelumnya ia telah mendapat penjelasan terkait pekerjaan Yusuf sebelum menikah dengannya. Penjelasan itu pun dilakukan langsung oleh perwakilan pihak Basarnas.
Perlakuan itu bukan hanya padanya, namun pada seluruh calon istri dari anggota Basarnas. âIni kan memang risiko. Tentu harus siap. Banyak-banyak berdoa saja,â tuturnya.
Yusuf sendiri sempat merasa was-was jika sang istri akan kabur mendengar penjelasan yang diberikan oleh kepala Basarnas tempatnya bekerja saat itu. âKarena uda terlanjur cinta kali ya. Jadi ya menikah juga akhirnya,â ujarnya kemudian tertawa.
Dalam menjalankan tugasnya, ada satu kelemahan yang kadang membuat dia ingin segera pulang. Yakni bila sang anak M. Fathullah Fitroh Yusuf (11) sudah mulai bertanya kapan ia akan pulang.
Setelah dijawab oleh Yusuf, siswa kelas 5 SD itu akan menandai hari kepulangan sang ayah. Bila tak kunjung sampai rumah, ia akan kembali bertanya kapan sang ayah akan pulang. âDia sih nanyanya selalu, papa kapan pulang. Udah kalau itu cuma bisa diam aja,â tuturnya.
Dengan segala masalah yang ia hadapi, Yusuf mengaku tidak pernah menyesal masuk menjadi tim penyelamat. Ia justru bangga bisa mengabdi pada negara dan membantu sesama.
Meski tak jarang pula, atas kerja keras yang ia dan tim lakukan, mereka tak pernah menjadi sorotan. Ia percaya, Tuhan tahu siapa yang telah bekerja keras untuk melakukan penyelamatan. Ia justru memilki harapan-harapan tinggi untuk Basarnas.
Pria yang telah mengabdi selama 21 tahun itu berharap seluruh sarana dan prasarana Basarnas dalam dilengkapi dengan peralatan-peralatan canggih. Sehingga ke depan, seluruh proses SAR dapat sepenuhnya dilakukan oleh Basarnas tanpa bergantung pada sistem lembaga lain.
âSederhananya saja, misal untuk boat. Saat ini kan kapal masih fiber. Mungkin nanti bisa diganti dengan yang lebih canggih. Karena kan kita perlu melakukan update,â ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, ia turut meluruskan dugaan masyrakat yang menyebut pihaknya hanya bekerja pada saat terjadi bencana besar. Ia menegaskan, bahwa hal itu salah. âSetiap hari ada sekitar 20 file aktif penyelamatan yang dilakukan oleh Basarnas di seluruh Indonesia. bahkan tidak pernah ada jeda kosong,â jelasnya.
Bukan penjual peti
Selain tetap melakukan pertolongan SAR, peningkatan kekuatan dan kualitas juga terus diasah setiap harinya. Mulai dari kekuatan fisik, latihan pola pikir, hingga kekuatan teknik SAR paling baru.
âKita enggak sama dengan penjual peti mati. Saat ada yang meninggal kita untung. Justru, kita harus siap terus. Karena kita selalu berperinsip, kejadian musibah kapan pun dimana pun bisa terjadi. Sehingga harus selalu siap,â pungkasnya.
Cerita Mahdi berbeda lagi, PNS golongan 2A ini sudah 4 tahun menjadi petugas SAR. Dia rekrutmen Basarnas Banjarmasin. Selama operasi pencarian Air Asia 8501 ini, Mahdi banyak bertugas berjaga di Posko di Pangkalan Bun. Namun, bukan berarti dia tak terlibat misi penyelamatan.
ââHari pertama dan kedua, saya berada di Kapal Rib, namun karena ombak tidak bersahabat, tim saya gagal mencapai lokasi sasaran,ââ ujar pria asal Sampit itu. Menurut dia, penugasan di posko sering dirotasi. Personel yang bertugas di titik sasaran apabila kelelahan akan digantikan di posko.
Belakangan ini Mahdi banyak menangani evakuasi jenazah, dari helikopter ke ambulans. Meski belum banyak pengalaman terlibat kejadian besar, tak jarang Mahdi harus meninggalkan keluarga saat liburan.
ââTerakhir saya terlibat SAR saat ada speed boat yang tenggelam di Sampit. Pada hari ketiga operasi saat itu lebaran haji. Tapi bagaimana lagi namanya risiko pekerjaan, gak ada libur juga,ââ paparnya.
M. Iqbal anggota Basarnas asal Jakarta punya cerita berbeda. Dia sudah tidak pulang sejak kejadian longsor Banjarnegara.
ââSetelah kejadian Banjarnegara kan dilanjut banjir di Bandung. Setelah banjir teratasi kita sempat mengira akan off, ternyata ada kejadian AirAsia ini,ââ paparnya. Di Pangkalan Bun Iqbal bertugas sebagai koordinator pengisian perbekalan, salah satunya BBM helicopter Dolphin milik Basarnas dan heli lain milik TNI.
Sumber: http://simomot.com/2015/01/04/kisah-kisah-lengkap-anggota-basarnas-dari-soal-gaji-hingga-ditanya-anak-kapan-pulang/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar