Tim Disaster Victim Identification (DVI) mempercepat proses pengidentifikasian jenazah korban pesawat Air Asia QZ8501. Sebab akselerasi identifikasi semata untuk keluarga korban agar tidak menunggu terlalu lama. Demikian diungkapkan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Anas Yusuf.
âPercepatan identifikasi ini diperlukan sehingga keluarga korban tidak terlalu lama menunggu dan bisa segera membawa pulang jenazah keluarganya yang kini sudah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim,â kata Anas di Surabaya, Jumat (09/01/2014).
Dia menjelaskan, proses identifikasi di hari ketiga belas, Jumat, 9 Januari 2015, memang sedikit sulit. Sebab seluruh jenazah yang tiba belakangan sudah dalam kondisi yang rusak sehingga sangat sulit dikenali. Bahkan, sidik jari jenazah sebagian besar juga sudah tidak ada. Satu-satunya cara yang kini bisa dilakukan adalah dengan melakukan tes DNA.
âSedangkan tes DNA tentu memerlukan waktu yang tidak cepat karena prosesnya bisa sampai dua minggu,â katanya dikutip VivaNews.
Tim DVI kini juga terus melakukan berbagai upaya selain tes DNA, yaitu dengan memperbanyak data antemortem atau data profil jenazah yang didapat dari keluarga korban.
Total 41 jenazah yang telah diterima Tim DVI di Rumah Sakit Bhahayangkara Surabaya per Jumat siang, 9 Januari 2015. Sebanyak 25 jenazah di antaranya berhasil diidentifikasi dan sudah diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Manajemen Air Asia Indonesia kini juga mulai menyiapkan pembayaran asuransi bagi keluarga korban. Polda Jawa Timur turut mengawal dan memastikan prosenya sehingga asuransi yang akan diberikan tidak salah sasaran. Sesuai rencana, asuransi yang akan diberikan pada pihak keluarga adalah Rp1,25 miliar per penumpang.
âKita akan bantu kawal untuk pencairan asuransi. Terkait surat keterangan kematian, kita keluarkan begitu jenazah teridentifikasi,â kata Anas.
Sumber: http://simomot.com/2015/01/09/jenazah-penumpang-air-asia-sulit-dikenali-identifikasi-hanya-andalkan-dna/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar