Minggu, 04 Januari 2015

Insiden AirAsia Jangan Sampai Dijadikan Ajang Pencitraan

Insiden AirAsia Jangan Sampai Dijadikan Ajang Pencitraan

Insiden AirAsia Jangan Sampai Dijadikan Ajang Pencitraan (Foto: Okezone)

Insiden AirAsia Jangan Sampai Dijadikan Ajang Pencitraan

JAKARTA - Insiden jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 pada Minggu 28 Desember 2014 jangan sampai dijadikan ajang pencitraan semata bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tetapi harus bisa dijadikan ajang pembelajaran dan evaluasi untk menjamin keselamatan penumpang.

"Jadi kedepannya, selesaikan ini dan jadikan pintu masuk untk menyelesaikan persoalan perhubungan (angkutan umum)," kata pengamat politik dari Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan kepada Okezone, Minggu 4 Januari 2014.

Pemerintah, sambung Bakir, harus peka dalam menangani persoalan yang mengancam keselamatan penumpang itu dg cara lebih antisipatif. Bukan hanya sekedar reaktif saat ada peristiwa serupa terjadi.

"Bahwa antisitif lebih baik ketimbang reaktif, jangka panjangnya semua rangkaian yang berhubungan dg perhubungan (angkutan). baik udara, darat dan laut bisa di evaluasi sehingga dapat mengantisipasi kecelakaan," ungkapnya.

Bakir menambahkan, kerja cepat pemerintah saat ini memang belum bisa dikatakan sebagai ajang pencitraan, terutama dalam menangani insiden pesawat AirAsia yang jatuh di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

"Dalam kasus ini sah-sah aja, karena ini pertama dalam pemerintah Jokowi baru ada insiden ini," pungkasnya.(rif)

(ugo)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2015/01/05/337/1087785/insiden-airasia-jangan-sampai-dijadikan-ajang-pencitraan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar