Jumat, 09 Januari 2015

Cerita Pembunuhan Wartawan di Filipina (3)

Cerita Pembunuhan Wartawan di Filipina (3)

Cerita Pembunuhan Wartawan di Filipina (Foto: Okezone)

Cerita Pembunuhan Wartawan di Filipina (3)

GENERAL SANTOS â€" Di kota General Santos di Mindanao, di sudut belakang kompleks markas kepolisian daerah itu, teronggok beberapa bangkai kendaraan yang disebut-sebut polisi akan digunakan sebagai barang bukti dalam kasus ini.

Dikandangkan hanya dg batas pagar kawat, semua kendaraan itu memperlihatkan bekas kejadian. Serpihan barang bukti termasuk bodi mobil van ringsek yang membawa korban sebelum mereka dieksekusi dan dijungkalkan di lubang kuburan massal. Terlihat juga empat unit kendaraan militer roda empat yang dipakai untk membawa orang-orang bersenjata yang menyergap rombongan konvoi, kemudian membunuh para korban. Pembunuhan, yang belum terpecahkan, bertumpuk.

Pada 23 November 2009 pembantaian 58 orang itu tercatat sebagai insiden terkait pilkada yang paling berdarah di Filipina, dan satu-satunya serangan tunggal di dunia yang paling mematikan atas para pekerja media. Hal itu semakin memperkuat reputasi Filipina sebagai salah satu tempat paling berbahaya bagi wartawan, mnurut pernyataan Committee to Protect Journalists (CPJ).

Kasus 32 awak media yang dibunuh secara brutal dalam pembantaian Maguindanao belum selesai, meskipun ada tekanan dari kelompok-kelompok hak asasi manusia nasional dan internasional dan para pendukung kemerdekaan pers.

Tapi begitu juga kasus pembunuhan jurnalis lain. Jauh sebelum insiden yang terkenal sejak lima tahun silam ini.

Menurut Center for Media Freedom and Responsibility (CMFR), yang memonitor pembunuhan media di negara itu, lebih 200 wartawan Filipina telah dibunuh di seluruh negeri sejak 1986, ketika kehidupan demokrasi dipulihkan, sebagian besar dari mereka tewas dalam menjalankan tugas.

Dari angka tsb, hanya 14 kasus telah diputuskan. Quinsayas menambahkan hanya orang-orang bersenjata yang dihadapkan ke pengadilan dan tdk ada otak pelaku yang pernah dihukum.

Catatan CMFR juga menunjukkan bahwa 24 wartawan tewas sejak 2010, ketika Benigno Aquino menjadi presiden.

Para pembela hak asasi manusia mengkritik lambannya peradilan di negara itu, ditambah lagi dg investigasi kriminal yang tdk efisien dan kurangnya pengumpulan dan perlindungan saksi, maka terpeliharalah budaya impunitas. (Bersambung)

(sus)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2015/01/09/337/1090043/cerita-pembunuhan-wartawan-di-filipina-3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar