Senin, 29 Desember 2014

Keluarga Korban AirAsia: Di Mana Anakku Sekarang?

Keluarga Korban AirAsia: Di Mana Anakku Sekarang?

Keluarga korban AirAsia: Di mana anakku sekarang? (Foto: Solichan Arif/Koran Sindo)

Keluarga Korban AirAsia: Di Mana Anakku Sekarang?

TULUNGAGUNG - Suasana hati Ny Marini (80) belum seutuhnya stabil. Setiap kesadaranya pulih, ibu kandung Marwin Sholeh (46), warga Desa/Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, itu sontak memekik tak terkendali. Ia mengguncang-guncang tubuh siapa saja yang berada di dekatnya.

"Di mana anakku sekarang? Sampai sekarang kok belum juga pulang?" teriaknya dg tangan terus menggapai mengharap terbitnya jawaban yang memuaskan.

Marini merebah di lantai ruang keluarga tempat tinggal Marwin Sholeh. Setelah didahului ratap histeris usai mendengar dari pewarta bahwa anaknya termasuk satu dari 155 penumpang pesawat AirAsia Airbus A320-200 QZ 8501 rute Surabaya-Singapura yang lenyap, janda mendiang Mijan Krusik tsb tdk lagi menempati kamarnya.

Sejumlah kerabat yang duduk bersimpuh di dekatnya tak juga beranjak. Mereka memilih mengunci mulut, tak bersuara. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Marini. Namun, mata mereka tak bisa menyembunyikan kesedihan. Semuanya berkaca-kaca.

"Istigfar. Tidak ada apa-apa. Sebentar lagi juga pulang," bujuk seorang ibu tua

Marsid.

Kakak tertua Marwin Sholeh juga terlihat di sana. Namun, sama dg yang lain, pria yang mengidap penyakit vertigo itu tdk sanggup menyampaikan cerita apa pun kepada ibunya. Marsid sendiri juga sempat pingsan usai menerima telefon dari Marsim, adiknya yang bekerja di Malaysia.

"Sebab, sudah tdk ada lagi yang dipercaya oleh Mbah Marini. Kami sempat bersepakat memberi tahu kalau keadaanya baik-baik saja. Namun, begitu melihat televisi, Mbah Marini kembali histeris tdk percaya," tutur Syaifuddin, kerabat yang didaulat menjadi juru bicara keluarga.

Di dalam kamar yang berjarak beberapa langkah dari tempat Marini tergolek lemas, Winingsih (28), istri Marwin, juga belum sepenuhnya sadar. Dengan mata terpejam, ibu tiga anak itu terus meracau memanggil manggil Marwin soleh. "Abah, abah. Mana abah?" panggilnya lirih.

Sementara anak-anak Marwin terlihat lebih tabah. Mereka tdk henti-hentimya membujuk sang ibu untk tegar. Ya, Marwin Sholeh biasa dipanggil abah. Tidak hanya oleh Nurul Faridatul Ikhoramah (18), M Zaenudin Purbokusumo (15) dan M Khoirudin Pandu Wiranata (8), anak ketiga dan istrinya. Para murid Marwin juga menyematkan panggilan serupa.

Maklumlah, anak bungsu tiga bersaudara pasangan suami-istri Mijan dan Marini itu dikenal sebagai pimpinan padepokan ilmu olah kanuragan di Pucanglaban. Caleg Partai Golkar yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Mambaul Huda yang gagal pada Pemilu Legislatif 2014 tsb juga tersohor sebagai tabib pengobatan sekaligus paranormal.

Tidak hanya membuka praktik di rumahnya berlantai dua yang megah itu. Ia juga memiliki cabang pengobatan di Singapura dan Hongkong.

"Buka cabang di Singapura sejak 2007. Dan, ke Singapura ini juga dalam rangka melihat perkembangan cabang pengobatan," jelas Syaifuddin.

Marwin berangkat ke Surabaya Sabtu 27 Desember, sekira pukul 09.00 WIB. Rencananya Senin 29 Desember malam, Marwin sudah pulang ke rumah. Sebab, ia memang berharap malam Tahun Baru 2015, dirinya bisa berkumpul bersama keluarga.

"Sebab, usai tahun baru rencananya akan langsung terbang ke Hongkong. Pergi ke Hongkong dan Singapura dua kali dalam sebulan. Namun, baru kali ini naik AirAsia," paparnya.

Menurut Syaifuddin, keluarga tdk memiliki firasat yang aneh. Beberapa jam sebelum berangkat ke Bandara Juanda, Marwin Sholeh sempat merebahkan kepala di atas pangkuan ibunya. Sambil mengobrol meminta doa perjalanannya lancar. Marwin juga sempat meminta M Zaenudin Purbokusumo, anak keduanya, untk beberapa kali mengusap kepalanya.

"Awalnya, anaknya hendak diajak. Namun karena kehabisan tiket, akhirnya tdk jadi diajak. Mungkin hanya itu firasatnya. Saat meminta kepalanya diusap, Abah (Marwin) meminta maaf," kata Syaifuddin.

Seperti kebiasaan yang dilakukanya, sebelum pesawat landing, Marwin sempat menelefon istrinya untk meminta doa.

Keluarga, kata Syafuddin, mulai cemas ketika ponsel Marwin tdk bisa dihubungi. Sebab, saat itu sudah satu jam lebih dan seharusnya pesawat telah sampai tempat tujuan.

"Sebab kalau sampai tempat tujuan biasanya langsung menghubungi keluarga. Tidak lama setelah itu, kammi menerima kabar dari keluarga di Malaysia kalau pesawat AirAsia hilang," jelasnya.

Pesawat AirAsia QZ 8501 hilang

Pada Minggu 28 Desember sekira pukul 12.30 WIB, pihak keluarga telah pergi ke Juanda. Di hadapan mereka bersama keluarga penumpang yang lain, pihak AirAsia menyatakan siap bertanggung jawab secara moral dan material.

"Senin 29 Desember, didampingi kepala desa dan Kepolisian Pucanglaban, keluarga juga kembali ke Juanda dg membawa dokumen terkait Abah," jelasnya.

Marsid, kakak tertua Marwin, berharap adiknya bisa ditemukan dg kondisi selamat. Kalaupun hal buruk terjadi, Marsid yang tiba-tiba diberi uang Rp400 ribu oleh Marwin sebelum berangkat, menganggap hal itu sebagai suratan takdir.

"Kalaupun tdk selamat, kammi berdoa semoga khusnul khatimah. Mulai Minggu 28 Desmber malam kammi beserta warga terus melakukan doa bersama," tuturnya sedih.

Suasana haru selimuti keluarga korban AirAsia QZ 8501 di Bandara Juanda

Seperti diketahui, pesawat AirAsia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura hilang kontak Minggu 28 Desember 2014 sekira pukul 06.17 WIB. Pesawat tsb mengangkut 155 penumpang dan tujuh kru. Selain WNI, ada pula warga asing, yakni Inggris, Korea Selatan, Malaysia, dan Prancis di pesawat tsb.

(hol)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/12/30/337/1085550/keluarga-korban-airasia-di-mana-anakku-sekarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar