Senin, 22 Desember 2014

Kayu tahura Nuraksa dijarah oknum warga terkait sindikat

Kayu tahura Nuraksa dijarah oknum warga terkait sindikat

Mataram (ANTARA News) - Kayu pohon di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa, Dusun Kumbi, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, dijarah oleh oknum warga yang tdk bertanggungjawab.

Menurut pantauan wartawan yang kebetulan bertemu dg kawanan pencuri kayu pada Senin (22/12) sore, melihat bahwa aktivitas itu nampak dikoordinir dg rapi dan diduga berkaitan erat dg sindikat pembalakan liar.

Penjarah hutan itu tdk takut dan sudah mempersiapkan alat pengangkut yakni truk berukuran besar dg muatan puluhan potong kayu sepanjang tiga meter lebih.

Saat ditanya, para oknum pencuri tsb dg santai menjawab bahwa ia hanya pekerja yang mengambil upah. "Saya hanya pekerja suruhan saja," katanya kepada wartawan.

Diketahui kini di kawasan tahura Nuraksa, sulit ditemukan pohon besar yang dikatakan sebagai sumber kehidupan, kecuali hamparan pohon pisang, kopi dan ilalang.

Puluhan batang pohon berdiameter besar itu disembunyikan di pinggir jalan. Para pelaku menutupi dg semak-semak pisang yang baru saja di tebang.

"Maaf pak, jalannya terganggu," kata salah seorang pelaku menghadang sejumlah wartawan saat mengeksekusi kayu ke dalam truk.

Terlihat puluhan batang kayu yang diambil dari kawasan Tahura itu diduga baru saja ditebang. Karena, getah kayunya masih tampak segar.

Warga yang terlibat dalam pengangkutan kayu itu sekitar tujuh orang. Diatas truk warna biru terdapat dua orang, sementara lima orang lainnya berada di bawah.

Sebagian kayu sengaja ditinggal karena truk itu tdk mampu mengangkut dan disembunyikan dg cara menutupnya menggunakan daun pisang.

Untuk mengelabui petugas atau masyarakat setempat, truk yang membawa kayu itu tdk menggunakan nomor polisi. "Tidak ada plat nomornya truk itu," kata salah seorang wartawan yang memastikan truk pengangkut kayu yang diduga illegal itu.

Selesai mengangkut, truk itu beranjak dari lokasi pengambil kayu. Mereka melaju dg cukup kencang, terutama ketika melintas di pemukiman warga.

Sementara, saat melintas di bagian pos penjagaan Tahura Nuraksa terlihat sepi. Tidak ada satu petugas pun yang beraktivitas di bangunan tsb. Situasi itu membuat para pelaku pembalakan liar lebih leluasa mengambil kayu dari dalam kawasan hutan.

Eka Mandor Tahura Nuraksa mengaku, pengambilan kayu secara "illegal" memang cukup rawan di wilayah pantauannya itu. "Biasanya para pelaku mengambil kayu menjelang waktu petang," katanya saat ditanya sejumlah wartawan.

Untuk diketahui, Kawasan Tahura Nuraksa adalah pangkal kehidupan warga Lombok barat termasuk Kota Mataram. "Jika hutan yang diketahui satu kawasan dg wilayah Sesaot, Kecamatan Narmada, akan dibiarkan terus menerus rusak, maka debit air akan semakin menurun," ucapnya.

Ia menuturkan, jika hutan "gundul" nantinya masyarakat tdk bisa hidup, dan Perusahaan Daerah Air Minum akan merugi. "Jangan anggap hutan Kumbi dan Sesaot itu hanya sekedar hutan, tapi nasib kehidupan kitaa tergantung dari kelestariannya," ujar Eka.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2014

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/470471/kayu-tahura-nuraksa-dijarah-oknum-warga-terkait-sindikat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar