Fanisa Sulit Cari Keberadaan Keluarganya Paska Tsunami Aceh (Fanisa Rizkia saat ditemui wartawan/Foto: Salman M,Okezone)

BANDA ACEH - Selama sepuluh tahun terpisah dari keluarga paska tsunami menerjang Aceh 2004, Fanisa Rizkia (15) tdk berhenti mencari keberadaan ayah, ibu, dan dua saudaranya.
Tidak banyak informasi yang diterima remaja berusia 15 tahun itu untk mencari keberadaan keluarganya. Terakhir, Fanisa mendapat cerita dari ibu angkatnya, Sabariah, bahwa dirinya berasal dari Mon Geudong, Kota Lhokseumawe, kemudian orangtuanya tinggal di Banda Aceh. Namun, ia tak mengungkapkan secara detail rumahnya saat itu di mana.
Saat bertandang untk kali pertama di Aceh pada 2012 lalu, Fanisa sebenarnya ingin mencari keluarganya. Sayangnya, kunjungan Fanisa ke Aceh yang saat itu menjadi perwakilan dari Medan dalam ajang bulu tangkis, tdk memberi dirinya waktu luang untk mencari keluarganya.
Fanisa harus fokus sebagai atlet bulu tangkis yang ketika itu gelar uji tanding dg SMP di Banda Aceh. Maklum, remaja putri itu menjadi perwakilan sekolahnya untk ajang tsb. Usai bertanding, dia masih menyimpan keinginannya untk kembali ke Aceh.
Sepeninggal ibu angkatnya, kehidupan Fanisa berubah. Dia pun harus hidup dari gang ke gang hingga akhirnya dijual oleh agen penyalur TKI ke Malaysia. Fanisa mengaku diperlakukan baik oleh majikannya. Masalahnya adalah gaji yang dibayar sang majikan ke agen, namun tak pernah dinikmatinya.
Belakangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia menemukan bukti kalau Fanisa masih di bawah umur dan belum layak dipekerjakan. Ia kemudian diamankan KBRI selama sebulan sejak 20 November 2014. Sebelum diserahkan ke Pemerintah Aceh.
Atas perintah Gubernur Aceh, hari ini Kepala Dinas Sosial Aceh, Bukhari, memulangkan Fanisa ke tanah kelahirannya. Bukhari memastikan kalau Fanisa termasuk korban penjualan manusia. Ia menyayangkan ada orang yang tega menjual anak korban tsunami.
âItu sudah masuk trafficking. Di sana juga kan dia setelah dijual, dijual lagi, sehingga ketahuan sama kedutaan,â katanya.
Dari kasus ini, Bukhari menduga masih ada anak-anak korban tsunami yang dibawa keluar Aceh dan menjadi korban trafficking. Hanya saja selama ini sulit terlacak. âKalau anak korban tsunami kitaa sama sekali tdk terdata.â
Sejak tsunami, kata Bukhari, Dinas Sosial sudah menemukan banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya. Mereka kini dititipkan di panti-panti asuhan dan pesantren-pesantren di Aceh.
Melalui kerja sama dg UNICEF, pihaknya juga sudah mempertemukan kembali (reunifikasi) lebih 1.000 anak korban tsunami dg keluarganya sejak 2005.
Bagaimana dg Fanisa Rizkia? âSementara dia kammi tampung dulu di panti asuhan rumah sejahtera,â sebut Bukhari. Dinas Sosial akan bekerja sama dg semua pihak untk mencari keberadaan keluarga remaja ini.
Fanisa sendiri kini tak sabar ingin sekolah lagi dan menjalani hidup yang baru layaknya anak seusianya. Ia juga memendam harapan besar agar bisa bertemu kedua orangtuanya, tapi nasibnya belum diketahui apakah masih hidup atau telah tiada.
Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/12/19/340/1081537/fanisa-sulit-cari-keberadaan-keluarganya-paska-tsunami-aceh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar