Enam Terduga Anggota ISIS Pamit Cari Ilmu Agama

MAKASSAR - Enam orang terduga simpatisan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang ditangkap personel Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, ternyata pernah belajar di Pondok Pesantren Madrasah Tahfizul Quran. Lembaga pendidikan ini berada Jalan Manuruki, Sudiang Raya, Makassar.
Kendati hanya berjarak sekira 300 meter dari Mapolda Sulsel, cukup sulit untk menemukan lokasi pesantren ini. Letaknya berada di dalam lorong sebagai pintu masuk khusus yang terpisah dg permukiman warga.
Sekilas, pesantren tsb terlihat bernuansa tradisional dg bangunan dominan terbuat dari kayu. Ketika memasuki kompleks pesantren yang ramai dg murid-murid yang masih belia, Okezone harus melapor kepada penjaga di depan pintu masuk.
Kendati sudah melapor, tdk serta merta bisa menemui pimpinan pesantren tsb, Ustad Muhammad Basri. Okezone harus menunggu izin agar bisa mewawancarai sang ustad terkait penangkapan enam simpatisan ISIS di Jakarta. Okezone kemudian diarahkan ke sebuah ruang pertemuan.
Ternyata di dalam ruangan berukuran 5x8 meter tsb, sudah berkumpul sekitar enam orang termasuk Ustad Muhammad Basri yang menanyakan maksud kedatangan. Awalnya, sang ustad terkesan tertutup terkait penangkapan tsb namun kemudian melunak dan menceritakan perihal keenam orang tsb.
Ustad Muhammad Basri mengaku, terduga simpatisan ISIS yang ditangkap tsb merupakan muridnya karena pernah belajar di pesantren tsb. Menurutnya, dia tdk menghalangi orang yang ingin belajar agama kepada dirinya.
âYa, benar mereka pernah belajar di pondok pesantren ini dan mereka memang benar ada murid saya,â jelasnya kepada Okezone.
Lelaki berjenggot putih itu mengaku, sebelum berangkat, keenam orang tsb sudah memberitahukan akan pergi memperdalam ilmu keagamaan. Termasuk ke sejumlah negara di daerah Timur Tengah. Ustad Muhammad Basri mengungkapkan, muridnya tsb tdk ingin belajar ilmu agama di Indonesia dg alasan, ulama tdk lagi mengajarkan ajaran yang sesuai dg syariat. Selain itu, pemahaman yang dianut mereka tdk sejalan dg pendapat ulama di negeri ini.
âSiapapun yang ingin mencari dan memperdalam ilmu, tdk boleh dihalangi karena itu termasuk ibadah. Apalagi karena mereka merasa ilmu yang diajarkan di Indonesia sudah tdk sesuai dg keyakinan. Hal itu sudah sering dilakukan murid-murid di pesantren ini dan pasti didukung,â ujarnya.
Menurutnya, selain menuntut ilmu, kepergian murid-muridnya tsb sekaligus untk menenangkan jiwa. Alasannya, di negeri ini tdk tenang dan sering terjadi kekacauan . Dia mencontohkan baku tembak antara polisi dg TNI.
âSaya sampaikan, negeri ini sudah sangat bebas. Komunis saja hidup, kafir bebas dimana-mana sehingga jika mereka ingin keluar negeri, saya persilakan,â tandasnya.
Terkait penangkapan oleh Densus 88 di Jakarta, Ustad Muhammad Basri mengaku sudah mendapat pemberitahuan. Kendati demikian, belum ada informasi resmi termasuk dari pihak yang berwajib. âAda bilang sama saya mereka ditangkap. Tapi saya belum dapat infonya,â ujarnya menutup perbincangan.
Selama wawancara tsb berlangsung, sejumlah murid Pondok Pesantren Madrasah Tahfizul Quran sibuk mengawal dan mendokumentasikan perbincangan dg kamera dan video ponsel.(sna)
Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/12/28/340/1084704/enam-terduga-anggota-isis-pamit-cari-ilmu-agama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar