Jumat, 05 Desember 2014

Cara cerdas dongkrak trafik blog via Facebook, Twitter dan LinkedIn

Cara cerdas dongkrak trafik blog via Facebook, Twitter dan LinkedIn

Cara cerdas dongkrak trafik blog via Facebook, Twitter dan LinkedIn

Menaikkan trafik blog dengan cara membagikan postingan di jejaring sosial sudah banyak dilakukan blogger. Bagaimana dengan blogger wordpress.com? Sudah banyak juga, tetapi belum semuanya dan yang sudah melakukannya, kurang pas dalam prakteknya. Nah artikel ini menyajikan cara mengelola jejaring sosial sebagaimana yang disarankan pihak wordpress.com.

Apakah semua teman kita sudah berlangganan blog kita? Bagaimana dengan rekan kerja? Anggota keluarga? Teman sekelas atau mantan teman sekelas? Atau juga orang-orang yang belum tentu tahu kita, tetapi bekerja di bidang kita?

Memanfaatkan koneksi yang ada

Kemungkinan dari semua itu adalah jaringan sosial kita lebih besar daripada yang kita pikirkan. Untungnya, saat ini ada lebih banyak cara dari cara sebelumnya untuk menjangkau orang-orang yang memiliki minat dan rasa humor yang sama dengan kita. Jejaring sosial adalah cara tunggal terbaik untuk mencari teman dan mempengaruhi orang-orang di internet.

Jadi, bagaimana memastikan kita memanfaatkan media sosial secara penuh tanpa berlebihan? Pertama-tama, kita perlu memiliki pemahaman yang kuat tentang cara kerja berbagai jejaring sosial, dan apa spesialisasinya masing-masing. Pada bagian ini, kita akan berkonsentrasi pada Big Three: Facebook, Twitter, dan LinkedIn.

Sosmed mana yang harus kita masuki?

Memahami perbedaan antara jejaring sosial iu penting karena kemungkinan orang-orang yang mengikuti kita di masing-masing layanan tertarik pada kita karena alasan yang berbeda. Memang, kita pasti memiliki teman dan fans yang mengikuti kita di semua Sosmed itu dan berlangganan ke blog kita juga. Tapi kita juga mungkin memiliki anggota keluarga yang mengikuti kita di Facebook yang mungkin juga memeriksa blog kita jika kita memposting gambar-gambar saat keluarga berlibur bareng. Mungkin kita memiliki rekan kerja di jaringan LinkedIn yang akan memeriksa tulisan yang berkaitan dengan industri kita, tetapi tidak begitu tertarik pada tulisan fiksi kita.

Kita tentu ingin para pembaca itu tahu jika kita telah memposting sesuatu yang mereka inginkan. Cara termudah untuk melakukannya adalah dengan menghubungkan blog kita ke layanan media sosial kita menggunakan fitur Publicize.. Publicize akan secara otomatis memposting ke Facebook, Twitter, LinkedIn, dan/atau Tumblr setiap kali kita posting, sehingga kita tidak perlu melakukannya secara manual.

Kita juga dapat mengontrol layanan Sosmed kita per posting atau per tulisan. Misalnya, jika kita memposting artikel penuh kata-kata kasar yang tidak ingin dibaca nenek kita, kita dapat memilih untuk tidak membagikannya ke Facebook sebelum mempublikasikannya.

Meskipun begitu, ingatlah bahwa bagi mereka penggemar sejati yang mengikuti kita di setiap layanan, melihat update blog kita di setiap tempat bisa jadi repetitif. Idealnya, kita juga harus membuat konten asli untuk setiap layanan yang berbeda sehingga semua feed sosial media tampak segar, menarik, dan menghibur. Semakin lucu kita di Twitter, semakin banyak pengikut baru yang akan mengklik link untuk memeriksa tulisan kita di blog.

Menambahkan lebih banyak sentuhan sosial

Tentu saja, pastikan untuk menggunakan widget media sosial di blog kita sendiri, sehingga pelanggan kita tahu di mana mereka dapat menemukan kita, serta tombol berbagi, sehingga pembaca kita dapat memberi tahu semua teman mereka tentang karya brilian kita.

Pada Setting â†' Sharing, aktifkan fitur Likes atau Suka seperti di bagian bawah laman ini:

Fitur Likes atau Suka

Fitur Likes atau Suka

Akhirnya, prinsip yang sama mengenai etika berkomentar di blog juga berlaku untuk perilaku sopan bersosmed ria: ikuti, sukai, berteman, dan kirim pesan pada orang-orang karena kita ingin diikuti, disukai, dijadikan teman, dan dikirimi pesan. Carilah orang-orang yang kontennya menarik bagi kita, dan buat langkah pertama dengan me-like. Jangan bersikap kasar, juga jangan biarkan troll (pengacau di internet) membuang-buang waktu kita atau mengacaukan feed kita.

Semakin kita memperluas diri di media sosial, semakin besar jaringan kita akan tumbuh, dan pembaca blog kita akan semakin banyak. Dengan dasar ini, mari kita terjun secara spesifik ke masing-masing jejaring sosial.

Membagi blog kita di Facebook: Intisari Fanspage

Ada orang-orang yang menggunakan blog murni sebagai buku harian online, tetapi kebanyakan dari kita berharap untuk mendapatkan pembaca -dan jejaring sosial adalah cara untuk menemukan dan menumbuhkannya. Haruskah kita membuat fanspage Facebook untuk blog kita? Bagaimana caranya? Dan apa yang kita lakukan setelah kita memilikinya?

Mengapa membuat laman penggemar di Facebook?

Lita sudah membaca dan mengomentari blog orang lain dan berbagi membagi beberapa posting kita sendiri pada laman Facebook pribadi kita. Apakah membuat laman terpisah itu penting? Bisa jadi, karena itu menawarkan kemampuan yang tidak dimiliki laman pribadi, dan memungkinkan kita menggunakan “jaringan” sebagai bagian dari “jejaring sosial” untuk melibatkan pembaca baru.

Beberapa keistimewaan lama facebook adalah:

  • Tidak ada batasan fans: Laman pribadi membatasi teman di angka 5.000 -biasanya tidak masalah untuk digunakan secara pribadi, tetapi jadi masalah ketika blog kita mulai lepas lkitas.
  • Statistik: Fanspage menawarkan analisis (Facebook menyebutnya “wawasan”) yang memungkinkan kita melihat posting mana yang paling banyak dilihat dan dibagikan, bersama dengan data demografis dasar tentang penggemar kita. Kita dapat menggunakan ini seperti statistik WordPress.com untuk membantu kita membuat konten blog yang “berbicara” kepada pembaca kita.
  • Tempat untuk berbagi pikiran dan link: Punya ide-ide cepat atau link yang ingin kita bagi tapi tidak ingin menuliskan seluruh postingan di Facebook? Sekarang ide dan link itu punya rumah, yaitu fanpage.
  • Percakapan yang lebih luas: Tentu, kita ingin mendorong keterlibatan di blog kita dan mempertahankan bagian komentar tetap hidup. Tetapi jika kita ingin mendorong percakapan lain, tool diskusi Facebook memberikan tempat untuk melakukannya. Mungkin salah satu pembaca blog tentang merajut yang kita miliki ingin pola kaus kaki yang tidak kita miliki. Mungkin aneh bagi mereka untuk bertanya pada pos yang tidak berhubungan, tetapi mereka dapat bertanya di Facebook dan mendapatkan beberapa tanggapan -dan kita mendapatkan ide bagus untuk posting soal kaus kaki, yang akhirnya membawa lebih banyak orang ke blog kita. Sama-sama untung.
  • Jaringan, jaringan, jaringan: Kita biasanya menerima rekomendasi teman-teman kita secara serius. Ketika seorang sahabat kita memfollow fanpage blog kita, semua teman-temannya melihat hal itu -dan mereka kemungkinan akan datang memeriksa fanpage kita. Kita juga dapat mengomentari konten teman dan blog lain dengan akun fanpage blog kita, bukan akun Facebook diri sendiri, dan itu menghasilkan lebih banyak eksposur. Daripada menunggu orang menemukan kita, kita secara aktif membuat koneksi dengan mereka yang mungkin akan menjadi pembaca.

Sebuah fans page juga memberikan tempat untuk berbagi postingan blog kita dan konten terkait tanpa merasa nyepam pada teman dan keluarga; kita dapat lebih mudah menjaga kehidupan pribadi dan kehidupan blog kita secara terpisah.

Membuat laman penggemar bukanlah jalan pintas untuk sukses secara viral, dan ada kerugian yang haris diketahui. Jika semua yang kita lakukan dengan laman kita hanyalah membagi postingan blog kita, itu tidak akan membawa kita lebih jauh. Sebuah fans page yang sukses membutuhkan perencanaan konten, seperti blog kita, bersama dengan perawatan rutin. Kita juga akan memiliki banyak pembaca yang tidak menggunakan Facebook, dan membangun komunitas dinamis di sana bisa saja malah membuat mereka keluar dari percakapan yang menarik.

Mungkin kita tidak menggunakan Facebook, dan tidak ingin -itu sah-sah saja, konsentrasikan waktu dan energi pada media yang kita nikmati. Namun, jika pertumbuhan pembaca adalah tujuan kita, fanspage memiliki peran cukup besar. Jika kita sudah menjadi anggota Facebook, menambahkan fanspage untuk blog kita dapat menjadi cara efektif untuk melengkapi aktivitas kita yang lain di blogosphere.

Jika kita membangunnya, mereka akan datang

Kita bisa membuat akun untuk blog kita dengan cara yang sama ketika membuat akun FB untuk diri sendiri, tetapi kemudian kita tidak bisa mengambil keuntungan dari semua manfaat fanspage. Sebaliknya, kita bisa membuat laman -kita akan menjadi administrator dan akan mengaksesnya melalui akun pribadi kita, dan itu akan menjadi sebuah entitas terpisah yang tidak akan menampilkan informasi pribadi kita. Membuat laman juga memungkinkan orang menyukai atau mengikutinya tanpa harus menambahkannya sebagai “teman”.

Untuk memulai, pergilah ke laman Create a Page yang terlihat seperti ini:

Create a page - tampilan awal

Create a page â€" tampilan awal

Pilih “Brand or Product” -ya, kita adalah Brand- dan pilih “website” dari menu drop down yang muncul. Sebuah setup wizard akan memandu kita menambahkan info tentang blog kita; kita perlu memasukkan salinan laman “Tentang Kami” dari blog, URL, dan logo atau gambar blog kita. Kita juga dapat menambahkan link ke profil jejaring sosial lainnya untuk membantu penggemar menemukan feed Twitter atau board Pinterest kita. Setelah kita selesai mengisi info, klik “save.” Facebook akan membuat laman dan menaruh kita di dalamnya. Setiap kali kita login ke akun pribadi, kita akan melihat link ke laman kita dalam navigasi di sebelah kiri.

Ketika kita berada di fanpage kita, kita akan melihat sekelompok tool admin di atas dan laman konten di bawah. Luangkan waktu untuk mengklik di sekitar tool admin; ada banyak tooltips yang berguna untuk kita mulai. Kita juga akan melihat bahwa setelah laman kita memiliki 25 penggemar, kita bisa mengklaim URL kustom, sehingga fanpage kita memiliki alamat seperti misalnya:

http://www.facebook.com/myawesomeblog

dan bukan lagi

http://www.facebook.com/pages/something-kinda-like-your-blog-name-987654321.

Itu lebih mudah untuk diingat.

Blog kita memiliki fanspage. Lalu apa?

Timbul pertanyaan, “Jika kita membangun sebuah fanspage Facebook dan tidak ada yang menyukainya, apakah itu masih bisa menumbuhkan trafik kita?”

Tidak. Fanpage kita butuh: (1) konten dan (2) penggemar.

Untuk awalan, bagikan beberapa posting blog kita ke laman, dan tambahkan sedikit pesan “Hello!” untuk menyapa siapapun yang mungkin membacanya. Sekarang, cobalah mencari penggemar dari mereka yang paling mungkin menyukai kita: teman, keluarga, dan pembaca yang ada. Bagikan link ke fanpage baru kita di blog kita -cobalah mengumumkan dalam sebuah widget teks jika kita tidak ingin membuatkan sebuah postingan tentang itu, atau cukup tambahkan widget Facebook Like â€" dan undang teman-teman Facebook kita yang sudah ada ke fanpage (tool admin memiliki wizard untuk melakukan hal itu, yang memungkinkan kita memilih teman-teman untuk diundang).

Sekarang fanpage mulai bekerja, kita dapat meninggalkannya agar tumbuh secara organik ketika penggemar menyukai dan membagi konten kita… Jadi kita memang memerlukan beberapa hal itu. Kita mungkin ingin membagikan posting blog baru ke fanpage (kita dapat  mengatur Publicize untuk melakukannya secara otomatis), tapi jangan semuanya -jika fanpage kita tidak melakukan hal lain kecuali mempromosikan postingan kita, kemungkinan orang akan mengikuti fanpage kita akan kecil. Selain posting, kita perlu menambahkan konten lainnya, seperti:

  • Postingan blogger lain. Tidak ada yang lebih indah daripada berbagi cinta, dan mempromosikan karya bagus orang lain pada akhirnya juga akan membawa orang kepada Anda.
  • Link acak yang lucu, menarik, atau provokatif. Fanpage Anda menjadi berharga ketika Anda bermanfaat, membantu penggemar menemukan hal-hal unik di rimba internet. Link dan posting dengan gambar yang besar sangat bisa dibagikan.
  • Pertanyaan. Jika ada satu hal yang orang suka lakukan di Facebook, itu adalah berbagi pendapat. Anda mungkin tidak ingin menjalankan jajak pendapat di blog Anda, tetapi mengajukan pertanyaan di Facebook adalah cara yang baik untuk membuat orang terlibat dan mendapatkan feedback tentang apa yang membuat pembaca Anda tertarik.
  • Update status. Apakah Anda sedang mengerjakan proyek DIY di blog Anda minggu depan? Apakah Anda sedang menuju ke bioskop untuk melihat film yang Anda akan ulas di blog? Buat penggemar selalu terupdate dan bagikan hal-hal terkait hidup Anda dari postingan blog.

Anda tidak perlu melakukan semua ini setiap hari; justru jika Anda melakukan hal itu para penggemar akan menjauh pergi karena Anda membanjiri newsfeed mereka. Tapi posting beberapa kali sehari, dengan campuran posting blog dan konten terkait lainnya, akan menjadikan fanpage Anda menjadi suplemen untuk blog Anda -pembaca tempat lain bisa datang untuk mencari konten yang baik.

Pada akhirnya, membangun fanpage yang menarik membantu Anda sebagai seorang blogger -Anda tidak menciptakan alternatif untuk blog Anda, tapi Anda sedang menciptakan alat pengumpan yang memancing pembaca ke blog Anda. Mungkin Anda akan menyadari bahwa beberapa link terakhir yang Anda bagi akan menjadi topik menarik, atau percakapan dengan fans akan membuka jalan pikiran baru.

Dibutuhkan kerja keras untuk menjaga fanpage tetap kuat, tapi pada akhirnya, laman Facebook harus menumbuhkan jumlah pembaca Anda, membantu Anda menciptakan konten lebih banyak dan lebih baik, dan akhirnya meningkatkan blog Anda.

Ngetweet atau Tidak?

Twitter mungkin tampak kurang cocok untuk mempromosikan blog kita. Bagaimana bisa bergabung dengan kerumunan orang yang menulis dalam 140 karakter membantu menyebarkan tulisan kita yang mendalam? Selain itu, apakah kita bahkan memiliki waktu untuk bersaing dengan jaringan lain, di mana begitu banyak orang tampaknya tidak membahas apa-apa kecuali apa yang mereka santap untuk makan siang?

Di satu sisi, ini adalah hal yang wajar di Twitter. Belum lagi kita harus membuat password baru untuk diingat, ada banyak orang berbicara tentang makan siang mereka, dan kita dapat terjebak di dalamnya dan akhirnya menyesal telah membuang-buang waktu di sana.

Di sisi lain, ini bisa menjadi cara yang benar-benar efektif dan efisien untuk membuat koneksi yang tidak ingin kita buat. Kita dapat memfollow -dan berkomunikasi- dengan para master di bidang kita, bersama dengan banyak orang lain yang mendedikasikan diri pada hal yang sama kita. Kita bisa membaca posting dan menemukan link yang akan menginformasi dan menginspirasi kita, dan bisa tetap mengerjakan proyek kita sendiri.

Berikut adalah beberapa pertimbangan untuk membantu kita memutuskan apakah kita perlu bergabung dalam hiruk-pikuk Twitter:

Ini adalah media untuk percakapan, bukan hanya penyiaran. Ya, kita dapat dan harus membiarkan orang tahu tentang posting baru di blog kita melalui Twitter (kita dapat melakukannya dengan menghubungkan akun Twitter kita melalui Publicize). Tapi kalau hanya itu yang kita lakukan, kita tidak akan ke mana-mana. Twitter adalah tempat untuk memperpanjang percakapan, bukan lalu lalang link berbunyi “Hei, baca aku!”. Jika kita tidak ngetweet konten asli dan berinteraksi dengan orang lain (melalui dialog atau meretweet mereka), jangan repot-repot bikin Twitter.

Butuh waktu. Ini bisa menjadi investasi yang berharga, dan tidak harus menyita banyak waktu, tetapi jelas butuh sedikit waktu. kita harus mencari tahu siapa yang harus difollow, dan kemudian pastikan untuk berinteraksi dengan mereka. Ini tidak berarti kita perlu menjaga feed Twitter kita terbuka di komputer sepanjang hari, tetapi kita bisa check-in secara berkala untuk melihat apa yang terjadi. Tidak ada yang merasa terganggu untuk memfollow seseorang yang hanya posting setiap dua bulan sekali.

Ini tidak sama denganFacebook, atau Tumblr, atau LinkedIn. KontenTwitter kita harus unik. Jika semua yang kita lakukan adalah auto-tweeting status Facebook kita, kita tidak benar-benar menjadi twitizen aktif. Intinya adalah bahwa Twitter dapat menjadi (1) menyenangkan, (2) tempat yang bagus untuk terhubung dengan orang-orang di bidang yang kita minati, dan (3) cara untuk menabur benih blogular kita di antara audiens yang lebih besar. Tapi jika kita tidak siap untuk menginvestasikan sedikit waktu, kita mungkin tidak perlu twitteran.

Menghubungkan blog dengan LinkedIn

Bagi banyak blogger, membagikan posting kita di Facebook dan Twitter mungkin terlihat gampang -jelas saja, semua teman dan pengikut kita ingin membaca sepotong kalimat menarik kita. Tapi bagaimana jejaring sosial profesional LinkedIn?

Menambahkan jaringan lain sebagai senjata kita dapat membantu blog kita tumbuh, tetapi ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memutuskan untuk mendorong konten blog kita ke profil profesional kita:

Membuat link

LinkedIn adalah jejaring sosial berorientasi bisnis terbesar dan paling bersemangat. Situs ini memiliki ratusan juta anggota, yang menggunakannya untuk mencari pekerjaan dan untuk berinteraksi sosial dengan rekan-rekan yang aktual dan potensial. LinkedIn juga meningkat menjadi forum untuk pertukaran ide antara profesional, perusahaan, dan pemikir terkemuka.

Menyiapkan posting blog kita agar muncul dalam profil LinkedIn kita cukup mudah: kita hanya perlu  menggunakan Publicize untuk menghubungkan blog kita dengan akun LinkedIn kita.

Jika kita ingin membuat sebagian besar koneksi blog kita ke LinkedIn, berikut adalah beberapa tips cepat:

• Tambahkan tombol InShare di postingan kita sehingga pembaca dapat membagikan langsung ke akun LinkedIn mereka sendiri.

• Jelajahi dan gabung dengan grup LinkedIn untuk menemukan para profesional dan mencari ide-ide untuk posting baru.

• Hubungkan akun LinkedIn kita ke SlideShare, tempat lain untuk konten kita yang lebih visual.

Jalankan aktivitas ngeblog kita

Bagi beberapa pengguna WordPress.com, keuntungan dari koneksi ini jelas. Jika blog kita adalah rumah profesional utama kita, atau jika kita sering menulis tentang topik yang berhubungan dengan pekerjaan di situs kita, muncul di LinkedIn dapat memberikan dorongan kita.

Pertama, kita menjadi komentator dengan profil tinggi yang lebih terlihat di bidang profesi kita, baik itu mengajar, investasi, kerajinan, atau lainnya. Ini bisa mendatangkan keuntungan yang tidak diketahui untuk pekerjaan kita (atau mencari pekerjaan) dan membuka pintu peluang dan kenalan baru yang menarik. kita membuat diri kita dikenal di komunitas profesional, dan ambil bagian dalam diskusi publik lain, yang mungkin berbeda nada dan fokusnya dari yang biasanya kita ikuti di blog kita.

Tidak kalah pentingnya, menerbitkan posting di LinkedIn dapat memperluas pembaca dan meningkatkan popularitas blog kita secara keseluruhan. Ini adalah bentuk sindikasi: pembaca yang mungkin tidak pernah mendengar tentang blog kita sekarang memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi dan mengomentari konten kita. Kedengarannya bagus, bukan?

Over-sharing sebagai bahaya profesional

Nah, jika di blog kita menulis tentang perjalanan kuliner kita di luar kota, kisah kehidupan cinta kita, atau opini (negatif) tentang rekan kerja seprofesi kita, sebaiknya pikir dua kali sebelum mempostingnya di LinkedIn. Lebih jauh, setiap posting pribadi, bahkan yang paling biasa tentang pesta ulang tahun anak pertama kita, akan terasa ke luar dari jalur yang didedikasikan untuk (kebanyakan) interaksi profesional.

Tentu saja tidak ada yang secara inheren ofensif tentang salah satu topik ini, seperti tidak ada yang secara fundamental salah dengan cara kita berdandan. Namun, dalam lingkungan yang berhubungan dengan pekerjaan, beberapa orang terbiasa dengan kode perilaku tertentu, baik tentang seseorang yang dibicarakan atau pola cetakan di baju seseorang. Muncul tanpa menghormati kode ini akan mengasingkan beberapa pembaca kita dengan orang yang memiliki hubungan profesional dengan kita.

Sebagai aturan praktis, jika kita tidak ingin untuk berpikir dua kali tentang apa yang kita tulis, dan bahkan jika kita cenderung untuk mendekati topik-topik sensitif atau kontroversial secara teratur, menghubungkan blog kita ke LinkedIn mungkin sesuatu untuk dipertimbangkan kembali.

Menemukan keseimbangan blog dan kerja

Bahkan dengan adanya peringatan ini, penting untuk menekankan bahwa blogging di WordPress.com dan mempertahankan eksistensi yang hidup di LinkedIn tidak secara mutual eksklusif. Jika kita ingin menikmati manfaat dari menghubungkan kedua platform itu tanpa khawatir dunia yang terpisah itu akan bertabrakan, maka masih ada cara untuk melakukan itu:

Pertama, di setiap akun milik kita yang terkoneksi dengan Publicize, kita dapat memutuskan postingan mana yang akan diposting, dan yang tidak.

Katakanlah kita ingin koneksi LinkedIn kita membaca review wawasan kita tentang smartphone baru, tapi bukan membaca kritik tajam tentang film yang kita tonton. Mudah! Dalam modul posting, pada baris Publicize, klik “Edit.” Kemudian, sesuai dengan preferensi kita, centang kotak LinkedIn untuk publikasi, atau hapus centang untuk tidak mempostingnya di sana.

Sangat penting untuk dicatat bahwa bahkan jika kita tidak mempublikasikan posting khusus untuk LinkedIn, selama kita mempublikasikan apapun di sana, kita tidak pernah tahu mana konten di situs kita yang mungkin akan dipilih untuk dikunjungi koneksi kita.

Untuk pemisahan yang lebih besar antara jaringan, kita mungkin bisa mempertimbangkan untuk memiliki beberapa situs: misalnya, sebuah blog yang ramah dengan lingkungan kerja, dan blog yang “semau gue”. Koneksi LinkedIn dibuat per blog, bukan per akun WordPress.com -dan karena kita dapat memiliki banyak blog yang kita inginkan, kita dapat memilah-milah audiens kita dengan cara apapun yang kita inginkan.

Akun WordPress.com kita memberi kebebasan untuk membagi konten kita di berbagai jejaring sosial kita, dan untuk menyesuaikan posting kita ke khalayak tertentu. Pastikan untuk memanfaatkan fitur Publicize dan kekuatannya untuk menjangkau khalayak luas di luar pembaca blog inti kita.

Rangkaian artikel tips wordpress:

Sumber: http://simomot.com/2014/12/06/cara-cerdas-dongkrak-trafik-blog-via-facebook-twitter-dan-linkedin/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar